nasional

Ketum JBMI: Sumber Radikalisme Berasal dari Orang Munafik

rakyat.co – Salah satu persoalan bangsa adalah adanya paham radikalisme di tengah masyarkat. Maka, untuk mengatasinya diperlukan upaya deradikalisme melalui pendekatan agama dan berbagai kearifan lokal nusantara.

“Dalam agama-agama yang ada di Indonesia tidak ada ajaran radikalisme, baik Islam, Kristen, Budha dan Hindu, “ujar H Albiner Sitompul dalam diskusi Meneropong Visi & Misi Pemerintah, Visi Indonesia Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Bidang Sosial, Politik, Ekonomi dan Investasi di Markas Lira di Gedung Gajah, Tebet, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Terlebih, kata Albiner, dalam Alquran sama sekali tidak ada paham radikalisme, yang ada ajaran islam rahmatan lil alamin dan Islam sosial. Sebab, paham radikalisme itu bersumber dari orang-orang yang munafik.

“Alquran itu berisi tentang ajarkan agama seperti islam rahmatan lil alamiin dan Islam sosial, ” kata Ketua Umum Jami’iyyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) itu.

Kegitan deradikalisme yang telah dilaksanakan yaitu menggelar beberapa kali seminar nasional penerapan Dalihan Na Tolu yang ditinjau dari pandangan semua agama di Indonesia dan Pancasila pada 2017.

Di tahun sama, menggelar Silaturahmi Nasional JBMI dengan semua tokoh agama di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Memprakarsai dibentuk Desa Wisata Tuan Syekh Ibrahim Sitompul di Janji Nauli, Pahae yang disetujui oleh Bupati Tapanuli, Nikson Nababan.

Pada 2018, turut memprakarsai masa tanam padi serentak seluas 16 ribu hektar dengan mengimbau melaksanakan syariat Islam, empat bulan kemudian panen raya bersama dengan hasil tujuh ton per hektar di Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.

Tahun ini, melakukan penelitian bersama terhadap kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) di delapan Kabupaten di Provinsi Jambi selama lima pekan. “Kegiatan diakhiri dengan proses pembangunan pondok pesantren terpadu khusus bagi warga SAD, ” pungkasnya.

Acara diksusi menghadirkan narasumber selain Ketua Umum JBMI, juga pengamat politik M Qodari dan Indra J Piliang yang dimoderatori Ikhsan T dari Universitas Paramadina, Jakarta.[/4]