Tinjau Kondisi Terkini Gunung Merapi, Doni Monardo Kunjungi BPPTKG) Yogyakarta

Jumat, 20 November 2020

Kepala BNPB Doni Monardo

RAKYAT – Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaa Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Kamis (19/11/2020) dikunjungi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo.

Dalam kunjungannya tersebut, Doni langsung memantau situasi Gunung Merapi terkini dari Kantor BPPTKG Yogyakarta, untuk mengetahui dan mendapatkan informasi terkini mengenai Gunung Merapi usai dinaikkan statusnya menjadi siaga atau level III pada 5 November 2020.

BNPB, kata Doni, ingin mengetahui tentang potensi dampak dari bencana Gunung Merapi bahwa terkait data dan informasi dimiliki BPPTKG Yogyakarta dinilai sudah lengkap untuk untuk dijadikan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan selanjutnya.

Selain itu, Doni mengapresiasi kinerja, peran dan fungsi BPPTKG sebagai bagian dari tim intelijen BNPB dalam kaitannya penyelidikan dan pengembangan teknologi bencana geologi.

“Dalam kunjungan ini yang perlu kita ketahui. BPPTKG ini adalah tim intelijen kami. Jadi dalam kebencanaan kita juga butuh intelijen informasi,” ungkap Doni.

Jika hasil dari informasi dari tim BPPTKG, PVMBG dan Badan Geologi kemudian dapat diteruskan ke pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, TNI/Polri serta sejumlah instansi terkait termasuk para relawan bencana alam.

Kemudian, jika dari data dan informasi yang didapatkan dari BPPTKG, maka seluruh komponen tersebut akan fokus ke wilayah yang berpotensi terdampak, sesuai dengan skala prioritas.

Melalui pengolahan data dan informasi yang akurat, maka pemerintah dapat segera mengambil langkah cepat untuk upaya mitigasi maupun penanganan darurat bencana.

“Berbagai langkah kharus mengarah kepada aspek prioritas. Mudah-mudahan kita mendapatkan informasi yang cukup, yang banyak dan saya yakin semakin hari canggih peralatan yang kita miliki dan semakin akurat predikis-prediksi yang disampaikan,” ungkapnya.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menyampaikan dari hasil kajian sementara ditambah pengamatan secara visual menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Merapi pada tahun 2020 diprediksi memiliki kesamaan dengan erupsi 2006 silam.

“Tahun 2020 ini, aktivitas Gunung Merapi berpotensi memicu terjadinya guguran lahar panas, akan tetapi diperkirakan tidak akan lebih buruk dari erupsi 2010. Dapat terjadi guguran lahar panas, namun bisa jadi tidak separah 2010 lalu,” ungkap Eko.

unung Merapi diprediksi memiliki potensi erupsi dengan jenis letusan efusif, yakni lava dari letusannya mengalir terus dari gunung ke tanah.

“Gunung Merapi juga berpotensi meletus secara eksplosif, di mana magma yang terfragmentasi dengan keras kemudian dikeluarkan dengan cepat dari kawah gunung, ” terang Eko.

Jika BPPTKG pun memberikan rekomendasi untuk wilayah radius 5 kilometer dari puncak kawah merapi agar dikosongkan dari segala jenis aktivitas manusia dan tidak boleh ditinggali oleh penduduk.

“Itu dimaksudkan agar bila Gunung Merapi meletus sewaktu-waktu, tidak terjadi korban jiwa maupun kerugian harta benda. Rekomendasi Radius 5 kilometer harus dikosongkan, sebab kalau jadi meletus nanti agar tidak menimbulkan korban jiwa,” pungkas Eko.[/4]