RAKYAT.CO – Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Selasa (3/3/2026) di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz.
Dilansir dari Investing.com, Rabu (4/3/2026), harga minyak Brent berjangka untuk kontrak Mei naik sekitar 3 persen menjadi USD80,08 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik 2,9 persen menjadi USD73,41 per barel, tertinggi sejak Juni 2025. Kedua kontrak tersebut sebelumnya sempat melonjak hingga 9,5 persen dalam perdagangan.
Kenaikan harga terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Ketegangan semakin meningkat setelah Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melalui laut. Ancaman penutupan jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan angkatan laut AS siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan.
Di sisi lain, pemerintah Irak menyatakan telah mengurangi produksi minyak dari ladang Rumaila sekitar 700 ribu barel per hari di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Analis menilai harga minyak sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik serta potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi global.
“Saat ini dua faktor utama yang memengaruhi arah harga minyak adalah durasi konflik dan potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz,” kata Direktur Pelaksana Direxion Ed Egilinsky kepada Investing.com.
Menurutnya, jika konflik berlanjut atau akses ke jalur pelayaran tersebut tetap terbatas, tekanan kenaikan harga minyak berpotensi terus berlanjut.
Sementara itu, analis OCBC Bank memperkirakan harga minyak Brent berpotensi menembus USD100 per barel jika terjadi blokade berkepanjangan di Selat Hormuz.
Meski demikian, dalam skenario dasar, OCBC menilai blokade jangka panjang kecil kemungkinannya terjadi karena adanya kapasitas cadangan produksi dari negara-negara OPEC yang dapat membantu menstabilkan pasokan minyak global.


