RAKYAT.CO – Talkshow bertajuk “Dari Toko Buku ke Komunitas” berlangsung sukses pada Jumat (1/8/2025) di Panggung Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan. Acara ini menjadi salah satu sesi penting dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 dan membahas transformasi toko buku independen menjadi ruang komunitas dan pusat literasi di era digital.
Dua narasumber, Mutia Sukma dari Kedai JBS dan Ari Bagus Panuntun dari Warung Sastra, berbagi pengalaman mereka dalam membangun ekosistem literasi berbasis komunitas. Acara dipandu oleh Kanya Kiarra dari komunitas Sukusastra, yang membuka sesi dengan pembacaan kutipan sastra.
Mutia menjelaskan bahwa Kedai JBS awalnya merupakan ruang berbagi antar teman sebelum berkembang menjadi bisnis. “Semangat kolektif menjadi fondasi utama lahirnya toko ini,” ungkapnya.
Ari Bagus menceritakan bagaimana Warung Sastra mulai dari kreativitas mahasiswa yang ingin menjual buku. “Kami menjual buku dengan modal niat dan kamera HP. Keuntungannya 20 persen,” katanya, disambut tawa audiens.
Diskusi juga membahas strategi inovatif toko buku, seperti menggabungkan fungsi kedai dan literasi serta mengadakan program seperti Malam Buku dan kelas menulis. Program-program ini efektif dalam mengubah pengunjung menjadi bagian dari komunitas yang aktif.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat, dengan pertanyaan dari peserta tentang niat membangun komunitas. Mutia menegaskan bahwa komunitas menjadi fondasi awal Kedai JBS, sementara Ari Bagus menekankan bahwa Warung Sastra tumbuh secara organik dari kalangan mahasiswa.
Anindya, seorang mahasiswa, menanyakan kemungkinan bergabung sebagai relawan. Ari menyatakan bahwa Warung Sastra terbuka bagi siapa pun yang memiliki semangat kolaborasi.
Ismawati Retno, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, menekankan komitmen pemerintah untuk memberikan ruang bagi komunitas literasi yang tumbuh dari masyarakat. “Komunitas adalah nadi kehidupan literasi,” ujarnya.
Diskusi ini menunjukkan bahwa toko buku independen saat ini bukan hanya ruang niaga, tetapi juga pusat budaya. Melalui sinergi komunitas dan kegiatan literasi yang berkelanjutan, toko buku dapat bertahan dan berkembang sebagai pusat percakapan dan gerakan.
Dengan suasana akrab dan penuh gagasan, talkshow ini menguatkan posisi Festival Sastra Yogyakarta sebagai ruang literasi, komunitas, dan inovasi budaya.[*]

