RAKYAT.CO — Sebaran abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau kini telah menjangkau wilayah Jabodetabek hingga Jawa Barat. Masyarakat diminta tidak meremehkan dampak paparan partikel tersebut. Sebab, kandungannya jauh lebih berbahaya dibanding debu biasa dan dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan.
Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Tangerang, Virginia Nurya Hikmawati, menjelaskan perbedaan mendasar antara abu vulkanik dan debu yang biasa dijumpai sehari-hari.
“Debu biasa umumnya berisi partikel tanah, serat kain, spora jamur, atau zat pemicu alergi. Sementara abu vulkanik mengandung mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika,” ujar Virginia, Rabu (9/9).
Ketika partikel halus ini terhirup, tubuh langsung mengenalinya sebagai benda asing. Saluran pernapasan pun merespons dengan memproduksi lebih banyak lendir untuk melapisi dan melindungi jaringan. Reaksi ini yang kemudian memunculkan berbagai keluhan.
Dampak paparan abu vulkanik dirasakan secara berjenjang:
– Mata : Terasa perih dan gatal.
– Hidung dan Tenggorokan : Rasa tidak nyaman, batuk-batuk, hingga radang tenggorokan.
– Paru-paru : Batuk berat yang dapat berkembang menjadi sesak napas mendadak.
Risiko ini terasa jauh lebih berat bagi kelompok rentan maupun siapa pun yang memiliki riwayat gangguan pernapasan sebelumnya. Penderita asma, misalnya, berisiko mengalami kekambuhan penyakit.
“Apabila mulai muncul sesak napas, itu adalah tanda penting. Segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapat penanganan lebih lanjut,” tegas Virginia.
Sebagai langkah pencegahan di rumah, dokter menganjurkan: tetap gunakan masker saat berada di luar, kurangi aktivitas yang tidak mendesak, serta segera membersihkan diri — mencuci tangan dan wajah — sesampainya di rumah.[/4]


