Kondisi Sebaran Debu Vulkanik Anak Krakatau Per Pagi Ini

Penamapakan Gunung Anak Krakatau Pagi Ini

RAKYAT.CO — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis laporan terkini mengenai sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Kamis, 10 September 2026.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan pukul 04.00 WIB, tidak ada sebaran debu vulkanik yang terdeteksi. Hal itu ditegaskan langsung dalam keterangan resmi yang dipublikasikan melalui laman BMKG: “Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi.”

Sementara itu, melalui sistem MAGMA Indonesia, tercatat pula tidak ada pemantauan kembali aktivitas erupsi pada Kamis ini. Erupsi terakhir tercatat terjadi sehari sebelumnya, tepatnya Rabu, 9 September 2026, pukul 00.47 WIB. Saat kejadian berlangsung, aktivitas tersebut tidak dapat diamati secara visual.

Arah Sebaran Abu Vulkanik Berubah

Pada Rabu siang, arah sebaran abu vulkanik mengalami perubahan. Jika pada pagi hari sebelumnya abu bergerak ke arah barat laut dan berpotensi masuk ke wilayah Teluk Lampung, maka pada siang hari sebarannya justru berbalik arah dan cenderung menjauhi wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis citra Himawari-9 pukul 13.00 WIB, pada ketinggian permukaan hingga sekitar 5.000 kaki atau 1,5 kilometer, abu vulkanik teridentifikasi bergerak ke arah barat daya. Sebaran ini mencakup sebagian wilayah Selat Sunda hingga bagian barat Kabupaten Pandeglang.

Yoyok Dewantoro, Prakirawan BMKG Stasiun Radin Inten Lampung, menjelaskan bahwa perubahan arah itu dipengaruhi oleh pola angin di lapisan atmosfer.

“Untuk kondisi siang ini, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik lebih mengarah ke barat daya sehingga cenderung menjauh dari wilayah Lampung. Sebelumnya pada pagi hari, sebaran bergerak ke barat laut dan berpotensi memengaruhi wilayah Teluk Lampung,” ujarnya pada Rabu.

Ia juga menegaskan bahwa arah sebaran dapat berubah-ubah sesuai kondisi angin di setiap lapisan ketinggian.

“Perubahan arah sebaran ini sangat bergantung pada pola dan kecepatan angin. Jadi masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru karena arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu,” tambahnya.

Perlu dicatat pula bahwa kondisi di lapisan atmosfer yang lebih tinggi menunjukkan gambaran yang berbeda. Pada ketinggian hingga sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer, abu vulkanik masih terpantau bergerak ke arah barat laut dan masih mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Masyarakat pun diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi terbaru guna mengantisipasi perubahan arah sebaran yang dapat terjadi secara tiba-tiba.[/1]